Sabtu, 01 Desember 2012

Koalisi “Buta” Pilgub DKI


Oleh: Ali Topan DS
Pada pemilihan gubernur Jakarta 1 Juli 2012 lalu, tidak ada pasangan cagub-cawagub yang mendapatkan suara lebih 50%. Hal ini memaksa dua pasangan yang mendapatkan suara terbanyak satu (pasangan Jokowi-Ahok) dan dua (Fauzi Bowo-Nara) gencar untuk mendapatkan dukungan dari partai lain, koalisi. Kedatangan Jokowi pasca pencoblosan ke markas pemenangan pasangan Hidayat-Didik memunculkan isu bahwa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan berkoalisi dengan Jokowi di putaran kedua yang digelar 20 September 2012.




Seiring berjalan waktu menuju putaran II, ternyata banyak hal terjadi diluar dugaan. Pasangan Jokowi-Ahok yang didukung dua partai, PDIP dan Gerindra tidak mendapatkan dukungan dari partai lainnya, koalisi partai secara resmi. Sementara Foke-Nara yang berasal dari Partai Demokrat, mendapatkan dukungan dari beberapa partai besar seperti, Golkar, PPP, PAN dan PKS.

Tentu saja, di atas kertas pasangan Foke-Nara diprediksi mendapatkan banyak suara. Pada putaran I lalu, pasangan Foke-Nara mendapatkan 34,05 persen (1.476.648 suara). Sedangkan Dayat-didik 11,72 persen (508.113 suara) dan Alex Noerdin dan Nono Sampono 4,67 persen (202.643 suara). Maka dapat diprediksikan Foke-Nara mendapatkan total 50,44 persen dari pasangan yang diusung partai Golkar, PPP dan PKS tersebut. Jumlah ini jelas melebihi jumlah Jokowi-Ahok yang mendapatkan 42,6 persen (1.847.157). Dengan demikian, dua suara pasangan lainnya, Faisal-Biem (4,98 persen) dan Hendarji-Rieza (1,98 persen) yang berjumlah total 6.96 persen masih massa abu-abu dan menjadi rebutan. Dari analisis hitungan sementara ini, Foke-Nara berada di atas angin dari Jokowi-Ahok.

Sayangnya, fakta dilapangan saat putaran kedua kemarin berbanding terbalik. Berdasarkan hasil quick count Litbang Kompas pasangan Jokowi-Ahok mendapatkan 52,97 persen sementara, rivalnya Foke-Nara 45,89 persen; hasil dari Indo Barometer, Jokowi-Ahok mendapat 54,11 persen dan Foke-Nara mendapat 45,89 persen; Lembaga Survei Indonesia, pasangan Jokowi-Ahok mendapatkan suara 53,81 persen dan Foke-Nara sebesar 46,19 persen; sedangkan Lingkar Survei Indonesia merilis hitung cepat dengan perolehan Jokowi-Ahok mendapat suara 53,68 persen dan Foke-Nara sebanyak 46,32 persen. Hasil hitung cepat beberapa lembaga survey di atas setidaknya menjadi representasi hasil hitungan resmi KPUD Jakarta.

Dari hasil hitung cepat di atas, kita dapat “membaca” bahwa massa dari partai yang berkoalisi dengan Foke –PKS, PPP dan Golkar- tidak semua suara ke Foke. Pada pilgub Jakarta kali ini, koalisi partai bukan semata jaminan. Mesin massa partai koalisi seperti tidak bergerak efektif dan menutup mata, buta. Pada saat bersamaan, publik terlanjur kepincut dengan Jokowi, yang menurut Gun gun, (salah seorang pakar Komunikasi Politik UIN Jakarta) telah sukses menjadikan dirinya sebagai media icon. Pilgub Jakarta juga membuktikan bahwa parpol kalah dengan sosok figure sang calon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar